-
Cari itu!
-
Entri Terkini
- Membangun Kultur Baru PNS
- Harian Pelita – D’Java Resto Bekasi Lahir dari Seorang PNS Kanwil Kemenag DKI
- Tatakrama dan Unggah-ungguh
- Semua Urusan Seorang Muslim selalu Baik
- Serius, Semangat dan Konsistenlah dalam Beraktifitas
- SENGGANG
- Pekerjaan
- MUDIK LEBARAN DAN ASSESORISNYA
- Berbuat dan bertindak mengikuti kata hati
- Pituah
-
Tautan
Tatakrama dan Unggah-ungguh
Rasa-rasanya jaman sudah berubah, telah banyak generasi muda yang melupakan sejarah, seorang anak buah sudah tidak lagi unggah-ungguh dengan bapak buah, seorang yunior yang mestinya menghormati senior sudah lagi menjadi pamor…, hidup telah berubah, pola dan gaya anak muda telah kehilangan tatanan yang biasanya diajarkan oleh orangtua terutama di Jawa. Yah kehilangan tatanan nilai-nilai antara yunior dan senior, istilah jawa tatakrama atau unggah-ungguh. Apa karena jaman sudah globalisasi sehingga peduli amat dengan gombalisasi…, tak perlu lagi ada aturan-aturan yang mengikat diri, lepaskan lalu teriakan. Itulah mungkin yang menjadi pedoman. Sebenarnya sudah lama saya memendam perasaan ini, koq beda banget lingkungan kerja ku dengan yang dulu ya…, 15 tahun yang lalu ketika saya sebagai yunior, sebagai new comer, di dunia kerja saya sangat rikuh dengan atasan bahkan teman2 sesama staf yang lebih tua. Saya merasa segan dan hormat dengan senior-senior, saya selalu membantu senior. Kalau senior memberikan perintah, saya nurut aja perintah itu sebagai rasa hormat, kalau senior perlu bantuan, kami bantu…, begitu juga ketika kita minta nasehat mereka dengan suka rela memberikan nasehat, ketika kita perlu sesuatu sebagai yunior yang masih awam dalam pekerjaan maupun kehidupan saya mendapatkan siraman dan wejangan. Istilahnya ada take and give….,ketika itu saya di kota kecil. Saya lalui cukup lama… mungkin faktor lingkungan dan kebiasaan yang membuat suasana hidup, ada olahraga tim seperti sepakbola, bola voli, kerja dengan susunan meja yang berhadap-hadapan, sering berinteraksi, say hello, pengajian, kerjabakhti. Hampir semua kegiatan melibatkan seluruh komponen sehingga terbina dan terbentuk sensitifitas dan solidaritas sesama korp.
Lima belas tahun kemudian ketika saya merasa jadi senior dan kantor di Ibukota ternyata tatakrama, unggah-ungguh dan rasa sungkan terhadap senior, sudah mulai redup. Mungkin saya yang terlalu melangkolis dengan keadaan zaman, atau karena saya menganut paham unggah-ungguh yang terlalu taat, sehingga melihat fenomena dan keadaan zaman sekarang merasa ada sesuatu yang berbeda. Tatanan kehidupan anak-anak muda sekarang berbeda sekali dengan ketika saya masih muda. Yah itulah dunia…so what gitu loh? Sudah lepaskan perasaan, hilangkan rasa dendam, hilangkan rasa menyesal atas perbuatan kita di masa silam, bukan jamannya lagi mello, bukan jamannya lagi berkeluh kesah terhadap hal yang sulit untuk dikontrol. Tetaplah optimiz bila ada tingkah laku dan perbuatan yang dirasa baik maka tetaplah lakukan kalau perlu berikan contoh kepada mereka agar mereka pun mengikuti apa yang engkau inginkan. Yah… pendidikan tatakrama dan unggah-ungguh tidak masuk dalam kurikulum pengajaran di Indonesia sehingga pandangan budaya akan berbeda-beda, sehingga generasi mudanya pun akan berbeda pula dalam pengamalannya walaupun saat ini berada dalam satu kota. Mungkin ketika kecil saya selalu dikekang dengan unggah-ungguh, sopan-santun dan tatakrama yang baik. Sementara teman2 dan adik-adik kita yang tidak sewilayah, tidak sekota, tidak se daerah, tidak se ayah akan berbeda-beda cara menyikapi suatu unggah-ungguh. Saya terlahir di kampung yang secara tidak sadar diajarkan untuk minder dan mudah tersinggung. Ketika melihat orang yang berbeda tidak terbiasa, melihat orang yang mentereng gampang tercengang, melihat orang kaya tidak berdaya, melihat orang berdasi kita merasa tidak percaya diri. Sikap dan sifat seperti ini punya peranan penting yang mengakibatkan kaku dalam pergaulan dan sangat taat sama aturan dan norma, tidak suka membohongi diri sendiri apalagi membohongi orang lain. Sebenarnya bukanlah soal bohong membohongi, tetapi seringkali terpikir terhadap polah dan tingkah laku orang lain, sulit melupakannya, padahal harusnya kita berfokus pada apa yang kita lakukan, janganlah memperhatikan apa yang orang lain lakukan, karena hal tersebut sulit dan tidak bisa dikontrol.
Toleransi atas perbedaan karakter manusia memang boleh-boleh aja dan penting, tapi masalahnya adalah tatakrama yang dianut teman-teman di tempat saya bekerja adalah tatakrama atau unggah-ungguh yang sangat sulit saya toleransi dan bisa diterima akal sehat. Misalnya ada teman yang bawa oleh-oleh atau teman mentraktir makan untuk teman satu ruangan, niatnya memang untuk semua yang di ruangan tersebut dan termasuk mungkin juga saya. Walaupun makanan tersebut untuk umum, termasuk saya, saya merasa risih dan tidak terbiasa untuk langsung menyambar makanan yang dihidangkan sebelum ada yang menawarkan. Tapi herannya sebagian besar teman2 yang nongkrong disitu tidak satu pun yang menawarkan atau berbasa basi untuk menawarkan hidangan tersebut. Budaya saya adalah ketika saya tidak ditawarin untuk menikmati hidangan maka pantang bagi saya untuk memakannya walaupun saya tahu bahwa makanan tersebut dihidangkan untuk saya. Disinilah konflik bathin terjadi, antara makan atau tidak. Kalau tidak makan saya memang merasa bukan dari komunitas tersebut, sementara kalau makan, lah… wong ditawarin aja kagak… saya sedih, sangat sedih atas perlakukan yang demikian. Ini bukan budaya gue banget….Karena model tatakrama yang selama ini saya yakini benar, ternyata di komunitas saya saat ini sama sekali tidak terpakai. Termasuk ketika kita makan, kita sering berbasa-basi mengajak teman/kolega untuk makan walaupun hanya basa-basi, tapi di tempat kerja saat ini sungguh tatakrama seperti ini tidak ada. Mestinya yang muda lah yang lebih menghargai yang tua dan mengalah untuk memberikan tawaran. Waduh…ternyata urusan tatakrama aja membuat saya stress… Gemana apa ada teman2 yang punya pendapat..?
Posted in MOTIVASI
Semua Urusan Seorang Muslim selalu Baik
Ketika ditimpa musibah sebagai hikmah, mawas diri dan sarana introspeksi diri, ketika diberikan nikmat dia selalu syukur dan tidak mentang-mentang bahwa apa yang diperolehnya dari upayanya, tapi semata-mata karena karunia Alloh SWT. Alangkah beruntungnya hidup ini, bila orang Islam sudah mengamalkan ajaran agamanya dengan sempurna, tidak ada keluh kesah, tidak ada rasa gundah gulana, selalu tersenyum dan bahagia namun bukan berarti suka hura-hura. Tingkah lakunya terukur dan pola hidupnya selalu bersyukur tetapi juga pekerja keras tidak suka malas-malas. Tapi sayang sekali banyak dari kita teman-teman muslim, ketika kita lihat, masih banyak hidupnya tidak standar, etos kerjanya kurang, tidak serius dalam mengerjakan banyak hal, tidak optimis, kurang memberikan manfaat bagi sesama. Kondisi sebagian besar masyarakat kita adalah bila ia sebagai petani, ia merasa bahwa profesinya adalah pilihan terakhir daripada tidak kerja atau karena tidak sekolah, dan bekerja karena keterpaksaan bukan karena panggilan hati nurani yang paling dalam. Bila ia jadi birokrat, yang dipikirnya adalah awal bulan gajian dapat bayaran bukan sebagai abdi yang melayani rakyat sebagai amanat untuk mendapatkan berkat dunia dan akhirat. Bila dia sebagai guru harusnya dia juga menikmati profesinya karena menularkan ilmunya bukan semata-mata karena tuntutan ekonomi. Bila ia sebagai pedagang, mestinya merasa bahagia karena turut serta mendistribusikan dan memberikan manfaat bagi sesama, karena orang terbantu dengan jasanya. Begitulah hidup ini seharusnya, tidak mencari harta, tidak mencari popularitas, tidak mencari uang, tidak mencari pujian apalagi mencari jabatan… lalu apa yang dicari, kata orang sekuler, kerja adalah panggilan hati. Sedangkan bagi muslim kerja adalah mencari ridho Illahi.., penuhi hak-hak pelanggan, pengguna jasa, fakir miskin, orang-orang yang membutuhkan, setelah semua terpenuhi baru untuk dirinya sendiri. Itulah idealnya….. hidup sebagai muslim itu selalu baik, yang penting memberikan manfaat bagi sesama, sakitpun sebagai penghapus dosa apalagi sehat yang selalu memberikan manfaat…
Posted in MOTIVASI
Serius, Semangat dan Konsistenlah dalam Beraktifitas
*Serius alias sungguh-sungguh,
*Semangat yaitu melakukan aktifitas dengan passion, antusias dan selalu dilandasi oleh kemauan yang tinggi yang muncul dari dalam hati.
*Sedangkan konsisten adalah terus menerus dalam beraktifitas dan selalu mengupdate kemampuan dalam menjalankannya. Tidak mudah memang untuk melakukan pekerjaan dengan serius, semangat dan konsisten.
Pengertian di atas adalah berdasarkan definisi penulis sendiri, tidak ada literatur yang menjadi acuan.
Diperlukan penyemangat (motivator) untuk melakukannya, penyemangat tersebut sangat erat kaitannya dengan capaian pribadi atau harapan-harapan pada diri si pelaku aktifitas.
Macam-macam motivator diantaranya:
1. Imbalan dalam bentuk kebutuhan fisik seperti materi,uang, atau harapan untuk mendapatkan uang, hadiah, atau imbalan fisik lainnya;
2. Imbalan dalam bentuk non fisik seperti pujian, rasa aman atau kenaikan jabatan;
3. Aktualisasi Diri, seorang akan termotivasi bisa karena yang bersangkutan merasa mampu untuk melakukan dan merasa bangga atas pekerjaan yang dia lakukan.
4. Semata-mata mengharapkan ridho Alloh SWT atau kerja adalah bagian dari ibadah. Sehingga tanpa embel-embel nomor 1 s.d. 3 pun orang akan melakukan kerja dengan baik yaitu serius, semangat dan konsisten.
Motivator tersebut di atas sangat erat kaitannya dengan latar belakang, kejiwaan, bahkan keyakinan. Itulah manusia, makhluk yang unik…
Tapi apapun motivasi Anda dalam bekerja, saya sarankan untuk motivasi dengan niat yang benar, yaitu lillahi ta’ala (hanya untuk Alloh SWT) seperti dalil Alqur’an menyatakan bahwa “Tidaklah Aku (Alloh SWT) ciptakan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah (Q.S. Azzariyat:56). Sehingga apapun kata orang, apapun kata isteri, apapun kata tetangga, apapun kata anak, kita selalu menghadapkan diri kita untuk selalu bekerja baik hanya sebagai penghambaan kepada Alloh SWT.
Posted in MOTIVASI
SENGGANG
“Senggang” ga tahu persis kata-kata dari mana tapi intinya adalah tidak ada aktifitas yang bermanfaat yang harus dilakukan, atau disela antara pekerjaan pokok dengan pekerjaan lainnya, atau tidak ada kesibukan yang berarti yang harus segera diselesaikan. Waktu senggang banyak dipergunakan diantaranya untuk kongkow2, ngopi2, ngrokok, ngrumpi, ngelamun. Yah banyak kata-kata yang berawalan “ng” ternyata tidak produktif, termasuk diantaranya juga ” nguantuk…”. Di dalam kata senggang ternyata ada 2 huruf “ng” jadi yah wajar kalau tidak produktif.
Banyak waktu senggang yang seringkali terbuang percuma untuk hal-hal yang kurang bermakna, misalnya untuk tidur, loh emang tidur ga bermakna?, ya karena tidurnya sudah overdosis,wong malem aja tidur dari jam 9 aja sampai jam 5 koq.., 8 jam, apa masih kurang? Lebih dari cukup tuh!!. Eee.. ternyata di kantor masih tidur juga,,, tapi okelah namanya manusia emang ga sama, ada yang tidurnya sehari cuma 4 jam tiap hari, Pak Habibie (mantan Presiden RI) misalnya. Ada juga yang tidurnya 6 jam tiap hari, ada juga yang 5 jam, bahkan ada juga yang tidur nya 10 jam bahkan 12 jam atau 18 jam. Nah kalau yang tidur 24 jam, nah ini yang kelewatan, atau jangan2 tidur selamanya alias mate. Untuk urusan waktu senggang memang tidak sama setiap orang dalam menggunakannya, contohnya ini nih si penulis, menulis kalimat-kalimat ini karena waktu senggangnya bingung mo digunakan untuk apa, mau keluar ruangan ga boleh, mau tidur sudah kenyang, mau belajar… mumets, mau ngaji.. koq malas ya, lagian nanti ada yang usil sianghari -siang hari di kantor koq ngaji kayak di pesantren aja, mau ngerjain tugas kantor.. ga ada yang mesti dikerjakan dengan segera, mau belajar aturan…pusing (lagian juga sering ga kepake dan gampang lupa) SKS (sistem kebut semalam) ajalah bila diperlukan, waduh ternyata pusing juga mau ngapain ya, mau ngepel.. bukan tugasku, mau jualan… waktunya ngantor, ya udah akhirnya iseng-iseng ngetik cerita walaupun ga tahu ujungnya kemana…tapi yang jelas ngilangin ngelamun dan ngantuk.
Untung sekarang ini internet ga kehabisan strum alias on terus, ada namanya email, koran online, situs jejaring sosial seperti facebook (buku wajah…hehehe becanda), twitter, atau apalah…, ini yang bikin hidup lebih hidup. Bisa setiap saat ketika ada waktu senggang, maka bisa sign in di facebook atau buka-buka email siapa tahu ada teman atau millist yang mengirimi pesan. Peran internet di masa sekarang ini memang sangat perlu dan sudah menjadi kebutuhan.
Tapi .. ternyata diantara kita masih banyak juga yang menggunakan waktu senggang untuk bermain game, ini memang merupakan pilihan individu masing-masing, tapi bila terlalu lama main game rasa-rasanya hidup ini kurang produktif dan mubazir. Kalau jaman baheula sebelum ada komputer, karyawan/pegawai menggunakan waktu senggangnya untuk main catur atau pingpong kini jamannya komputer orang malas bergerak, di kursi mulu…….ya korban dari teknologi membuat orang jadi semakin males, semakin manja dan semakin kurang bersosialisasi. Nah bagaimana dengan Anda.. dipergunakan untuk apakah waktu senggangmu?
Posted in Hidup
Pekerjaan
Pekerjaan berasal dari kata “kerja” yang berarti profesi. Yah pekerjaan seringkali menjadi keluhan banyak orang, nggak punya kerjaan, punya kesibukan, nganggur, walah pokoknya pusing deh. Di birokrasi profesi pekerjaan yang paling tinggi adalah kepala pemerintahan atau presiden yang paling bawah bisa di bilang adalah pesuruh/penjaga kebersihan kantor. Masing-masing level mempunyai resiko dan tantangan sendiri dan dalam pelaksanaannya pun kesulitan dan kemudahan masing-masing. Disamping itu dalam profesi swasta pun profesi bermacam-macam dari yang paling atas yaitu Direktur Utama sampai pesuruh. Hal tersebut di atas adalah pekerjaan formal, di pekerjaan non formal lebih beragam dan banyak macamnya, bila kita lihat disekitar kita sebut saja tukang bajaj, supir baik supir busway sampai dengan angkot, tukang sapu jalan, pedagang asongan, pedagang kaki lima, pedagang yang punya toko, pedagang sayur, pedagang keliling, pedagang besar, pedagang kecil, grosiran dsb. Profesi lainnya yang tak kalah penting adalah petani dari petani gurem sampai petani yang berdasi yang punya lahan luas dan kerjanya cuma mengawasi dan memandori bahkan sekedar terima laporan belaka. Ada pula nelayan, nelayan pancing, nelayan yang dengan tangan kosong, nelayan yang pakai dayung, nelayan kapal, nelayan yang tidak pernah berlayar alias bosnya nelayan. Profesi lain di bidang kesehatan yaitu dokter, ada dokter gigi, dokter spesialis, dokter umum, dokter anak bahkan dokter-dokteran, perawat, ada perawat gigi dan perawat umum. Seabreg jenis profesi atau pekerjaan, ada pula pekerjaan yang kerjanya memata-matai pekerjaan orang alias wartawan, ya… tukang pewarta yang tugasnya membuat berita, apa saja yang dianggap berita untuk disebarkan kepada masyarakat internal maupun dunia. Ada pula pekerjaan yang tugasnya mencarikan pekerjaan untuk orang lain yaitu”calo” atau makelar, banyak macem calo, ada calo tanah, calo pembantu, calo bis, calo legislatif ( eh bukan…calon maksudnya), calo kasus, calo pns, banyak macemnya. Profesi calo sangat tergantung dengan kondisi masyarakat.., dimana masyarakat membutuhkan pelayanan dan jasa tetapi sulit untuk mendapatkan dari biro jasa atau institusi resmi maka disitulah calo bermunculan, intinya masyarakat pengguna adalah setiap individu yang ingin mendapat pelayanan tetapi sulit untuk mendapatkannya dengan baik, maka dengan cara membayar seseorang harapannya akan dilayani dengan baik, di sanalah muncul adanya calo dan jenis layanan apapun bisa ada calo bila pemberi layanan tidak bisa memberikan garansi layanan yang baik dan memuaskan pengguna/konsumen langsung. Beralih dari calo ada pula profesi tukang potong rambut, tukang pijit/urut, tukang cuci baju, tukang spa, pemilik jasa penyewaan kolam renang, penyewaan lap olahraga, waduh… banyak macam dan jenis profesi, karena kebutuhan masyarakat berkembang. Ada penjual mobil baru/bekas ada pula bengkel mobil, bengkel pun macem2 ada yang tukang poles body, ada bengkel kaki-kaki mobil, bengkel cat dsb belum lagi penjual motor dan bengkel motor. Ada pula layanan kesenangan, seperti industri hiburan musik, tontonan olahraga, tontonan hot dsb. Ada pula jasa pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal, banyak macamnya disana… pokoknya ga kehitunglah jumlah profesi atau pekerjaan dan sangat dinamis. Menurut Robert T Kiyosaki ada 4 kuadran profesi/pekerjaan yaitu:
1. Employee: karyawan swasta dan PNS
2. Self Employee: dokter, akuntan, konsultan, guru/dosen yang mandiri,
3. Busines Owner seperti pemilik kantin, pemilik toko, pemilik usaha dsb, cukup terima laporan dapat duit.
4. Investor: pemilik saham, ga ngapa-ngapain dapat deviden
Namun dalam prakteknya banyak jenis dan macam profesi, tapi herannya… banyak orang yang mengeluhkan ga punya kerjaan, sulit mencari pekerjaan, apa karena malas apa karena terlalu banyak milih pekerjaan. Pekerjaan akan muncul selama masyarakat membutuhkan makan, minum, pakaian, kesenangan, pendidikan, kesehatan, mencari penghasilan. Bila kita gali kebutuhan manusia tersebut maka akan banyak sekali profesi yang bermunculan, bila kebutuhan manusia adalah makan, maka pekerjaan yang bisa digali adalah penyedia sarapan pagi: tukang bubur ayam, ketoprak, nasi uduk, nasi rames dsb., belum lagi produk turunannya. Kita bisa menjadi penyedia bahan bubur ayam seperti penyedia beras, bawang, kacang, krupuk dsb…. Sungguh banyak sekali bila kita gali selama manusia masih ada di muka bumi maka disana pasti ada peluang, itu baru makan pagi belum lagi makan siang yang bermacam-macam selera, rasa dan menu serta lokasi. Lantas kenapa si koq manusia seringkali mengeluhkan sulitnya pekerjaan untuk mencari uang….?
Posted in MOTIVASI