Semua Urusan Seorang Muslim selalu Baik

Ketika ditimpa musibah sebagai hikmah, mawas diri dan sarana introspeksi diri, ketika diberikan nikmat dia selalu syukur dan tidak mentang-mentang bahwa apa yang diperolehnya dari upayanya, tapi semata-mata karena karunia Alloh SWT.  Alangkah beruntungnya hidup ini, bila orang Islam sudah mengamalkan ajaran agamanya dengan sempurna, tidak ada keluh kesah, tidak ada rasa gundah gulana, selalu tersenyum dan bahagia namun bukan berarti suka hura-hura. Tingkah lakunya terukur dan pola hidupnya selalu bersyukur tetapi juga pekerja keras tidak suka malas-malas. Tapi sayang sekali banyak dari kita teman-teman muslim, ketika kita lihat, masih banyak hidupnya tidak standar, etos kerjanya kurang, tidak serius dalam mengerjakan banyak hal, tidak optimis, kurang memberikan manfaat bagi sesama. Kondisi sebagian besar masyarakat kita adalah bila ia sebagai petani, ia merasa bahwa profesinya adalah pilihan terakhir daripada tidak kerja atau karena tidak sekolah, dan bekerja karena keterpaksaan bukan karena panggilan hati nurani yang paling dalam. Bila ia jadi birokrat, yang dipikirnya adalah awal bulan gajian dapat bayaran bukan sebagai abdi yang melayani rakyat sebagai amanat untuk mendapatkan berkat  dunia dan akhirat. Bila dia sebagai guru harusnya dia juga menikmati profesinya karena menularkan ilmunya bukan semata-mata karena tuntutan ekonomi. Bila ia sebagai pedagang, mestinya merasa bahagia karena turut serta mendistribusikan dan memberikan manfaat bagi sesama, karena orang terbantu dengan jasanya. Begitulah hidup ini seharusnya, tidak mencari harta, tidak mencari popularitas, tidak mencari uang, tidak mencari pujian apalagi mencari jabatan… lalu apa yang dicari, kata orang sekuler, kerja adalah panggilan hati. Sedangkan bagi muslim kerja adalah mencari ridho Illahi.., penuhi hak-hak pelanggan, pengguna jasa, fakir miskin, orang-orang yang membutuhkan, setelah semua terpenuhi  baru untuk dirinya sendiri. Itulah idealnya….. hidup sebagai muslim itu selalu baik, yang penting memberikan manfaat bagi sesama, sakitpun sebagai penghapus dosa apalagi sehat yang selalu memberikan manfaat…

Serius, Semangat dan Konsistenlah dalam Beraktifitas

*Serius alias sungguh-sungguh,

*Semangat yaitu melakukan aktifitas dengan passion, antusias dan selalu dilandasi oleh kemauan yang tinggi yang muncul dari dalam hati.

*Sedangkan konsisten adalah terus menerus dalam beraktifitas dan selalu mengupdate kemampuan dalam menjalankannya. Tidak mudah memang untuk melakukan pekerjaan dengan serius, semangat dan konsisten.

Pengertian di atas adalah berdasarkan definisi penulis sendiri, tidak ada literatur yang menjadi acuan.

Diperlukan penyemangat (motivator) untuk melakukannya, penyemangat tersebut sangat erat kaitannya dengan capaian pribadi atau harapan-harapan pada diri si pelaku aktifitas.

Macam-macam motivator diantaranya:

1. Imbalan dalam bentuk kebutuhan fisik seperti materi,uang, atau harapan untuk mendapatkan uang, hadiah, atau imbalan fisik lainnya;

2. Imbalan dalam bentuk non fisik seperti pujian, rasa aman atau kenaikan jabatan;

3. Aktualisasi Diri, seorang akan termotivasi bisa karena yang bersangkutan merasa mampu untuk melakukan dan merasa bangga atas pekerjaan yang dia lakukan.

4. Semata-mata mengharapkan ridho Alloh SWT atau kerja adalah bagian dari ibadah. Sehingga tanpa embel-embel nomor 1 s.d. 3 pun orang akan melakukan kerja dengan baik yaitu serius, semangat dan konsisten.

Motivator tersebut di atas sangat erat kaitannya dengan latar belakang, kejiwaan, bahkan keyakinan. Itulah manusia, makhluk yang unik…

Tapi apapun motivasi Anda dalam bekerja, saya sarankan untuk motivasi dengan niat yang benar, yaitu lillahi ta’ala (hanya untuk Alloh SWT) seperti dalil Alqur’an menyatakan bahwa “Tidaklah Aku (Alloh SWT) ciptakan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah (Q.S. Azzariyat:56). Sehingga apapun kata orang, apapun kata isteri, apapun kata tetangga, apapun kata anak, kita selalu menghadapkan diri kita untuk selalu bekerja baik  hanya sebagai penghambaan kepada Alloh SWT.

SENGGANG

“Senggang” ga tahu persis kata-kata dari mana tapi intinya adalah tidak ada aktifitas yang bermanfaat yang harus dilakukan, atau disela antara pekerjaan pokok dengan pekerjaan lainnya, atau tidak ada kesibukan yang berarti yang harus segera diselesaikan. Waktu senggang banyak dipergunakan diantaranya untuk kongkow2, ngopi2, ngrokok, ngrumpi, ngelamun. Yah banyak kata-kata yang berawalan “ng” ternyata tidak produktif, termasuk diantaranya juga ” nguantuk…”. Di dalam kata senggang ternyata ada 2 huruf “ng” jadi yah wajar kalau tidak produktif.

Banyak waktu senggang yang seringkali terbuang percuma untuk hal-hal yang kurang bermakna, misalnya untuk tidur, loh emang tidur ga bermakna?, ya karena tidurnya sudah overdosis,wong malem aja tidur dari jam 9 aja sampai jam 5 koq.., 8 jam, apa masih kurang? Lebih dari cukup tuh!!. Eee.. ternyata di kantor masih tidur juga,,, tapi okelah namanya manusia emang ga sama, ada yang tidurnya sehari cuma 4 jam tiap hari, Pak Habibie  (mantan Presiden RI) misalnya. Ada juga yang tidurnya 6 jam tiap hari, ada juga yang 5 jam, bahkan ada juga yang tidur nya 10 jam bahkan 12 jam atau 18 jam. Nah kalau yang tidur 24 jam, nah ini yang kelewatan, atau jangan2 tidur selamanya alias mate. Untuk urusan waktu senggang memang tidak sama setiap orang dalam menggunakannya, contohnya ini nih si penulis, menulis kalimat-kalimat ini karena waktu senggangnya bingung mo digunakan untuk apa, mau keluar ruangan ga boleh, mau tidur sudah kenyang, mau belajar… mumets, mau ngaji.. koq malas ya, lagian nanti ada yang usil sianghari -siang hari di kantor koq ngaji kayak di pesantren aja, mau ngerjain tugas kantor.. ga ada yang mesti dikerjakan dengan segera, mau belajar aturan…pusing (lagian juga sering ga kepake dan gampang lupa) SKS (sistem kebut semalam) ajalah bila diperlukan, waduh ternyata pusing juga mau ngapain ya, mau ngepel.. bukan tugasku, mau jualan… waktunya ngantor, ya udah akhirnya iseng-iseng ngetik cerita walaupun ga tahu ujungnya kemana…tapi yang jelas ngilangin ngelamun dan ngantuk.  

Untung sekarang ini internet  ga kehabisan strum alias on terus, ada namanya email, koran online, situs jejaring sosial seperti facebook (buku wajah…hehehe becanda), twitter, atau apalah…, ini yang bikin hidup lebih hidup. Bisa setiap saat ketika ada waktu senggang, maka bisa sign in di facebook atau buka-buka email siapa tahu ada teman atau millist yang mengirimi pesan. Peran internet di masa sekarang ini memang sangat perlu dan sudah menjadi kebutuhan.

Tapi .. ternyata diantara kita masih banyak juga yang menggunakan waktu senggang untuk bermain game, ini memang merupakan pilihan individu masing-masing, tapi bila terlalu lama main game rasa-rasanya hidup ini kurang produktif dan mubazir. Kalau jaman baheula sebelum ada komputer, karyawan/pegawai menggunakan waktu senggangnya untuk main catur atau pingpong kini jamannya komputer orang malas bergerak, di kursi mulu…….ya korban dari teknologi membuat orang jadi semakin males, semakin manja dan semakin kurang bersosialisasi. Nah bagaimana dengan Anda.. dipergunakan untuk apakah waktu senggangmu?

Pekerjaan

Pekerjaan berasal dari kata “kerja” yang berarti profesi. Yah pekerjaan seringkali menjadi keluhan banyak orang, nggak punya kerjaan, punya kesibukan, nganggur, walah pokoknya pusing deh. Di birokrasi profesi pekerjaan yang paling tinggi adalah kepala pemerintahan atau presiden yang paling bawah bisa di bilang adalah pesuruh/penjaga kebersihan kantor. Masing-masing level mempunyai resiko dan tantangan sendiri dan dalam pelaksanaannya pun kesulitan dan kemudahan masing-masing. Disamping itu dalam profesi swasta pun profesi bermacam-macam dari yang paling atas yaitu Direktur Utama sampai pesuruh.  Hal tersebut di atas adalah pekerjaan formal, di pekerjaan non formal lebih beragam dan banyak macamnya, bila kita lihat disekitar kita sebut saja tukang bajaj, supir baik supir busway sampai dengan angkot, tukang sapu jalan, pedagang asongan, pedagang kaki lima, pedagang yang punya toko, pedagang sayur, pedagang keliling, pedagang besar, pedagang kecil, grosiran dsb.  Profesi lainnya yang tak kalah penting adalah petani dari petani gurem sampai petani yang berdasi yang punya lahan luas dan kerjanya cuma mengawasi dan memandori bahkan sekedar terima laporan belaka. Ada pula nelayan, nelayan pancing, nelayan yang dengan tangan kosong, nelayan yang pakai dayung, nelayan kapal, nelayan yang tidak pernah berlayar alias bosnya nelayan. Profesi lain di bidang kesehatan yaitu dokter, ada dokter gigi, dokter spesialis, dokter umum, dokter anak bahkan dokter-dokteran, perawat, ada perawat gigi dan perawat umum. Seabreg jenis profesi atau pekerjaan, ada pula pekerjaan yang kerjanya memata-matai pekerjaan orang alias wartawan, ya… tukang pewarta yang tugasnya membuat berita, apa saja yang dianggap berita untuk disebarkan kepada masyarakat internal maupun dunia. Ada pula pekerjaan yang tugasnya mencarikan pekerjaan untuk orang lain yaitu”calo” atau makelar, banyak macem calo, ada calo tanah, calo pembantu, calo bis, calo legislatif ( eh bukan…calon maksudnya), calo kasus, calo pns, banyak macemnya. Profesi calo sangat tergantung dengan kondisi masyarakat.., dimana masyarakat membutuhkan pelayanan dan jasa tetapi sulit untuk mendapatkan dari biro jasa atau institusi resmi maka disitulah calo bermunculan, intinya masyarakat pengguna adalah setiap individu yang ingin mendapat pelayanan tetapi sulit untuk mendapatkannya dengan baik, maka dengan cara membayar seseorang harapannya akan dilayani dengan baik, di sanalah muncul adanya calo dan jenis layanan apapun bisa ada calo bila pemberi layanan tidak bisa memberikan garansi layanan yang baik dan memuaskan pengguna/konsumen langsung. Beralih dari calo ada pula profesi tukang potong rambut, tukang pijit/urut, tukang cuci baju, tukang spa, pemilik jasa penyewaan kolam renang, penyewaan lap olahraga, waduh… banyak macam dan jenis profesi, karena kebutuhan masyarakat berkembang. Ada penjual mobil baru/bekas ada pula bengkel mobil, bengkel pun macem2 ada yang tukang poles body, ada bengkel kaki-kaki mobil, bengkel cat dsb belum lagi penjual motor dan bengkel motor. Ada pula layanan kesenangan, seperti  industri hiburan musik, tontonan olahraga, tontonan hot dsb. Ada pula jasa pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal, banyak macamnya disana… pokoknya ga kehitunglah jumlah profesi atau pekerjaan dan sangat dinamis. Menurut Robert T Kiyosaki ada 4 kuadran profesi/pekerjaan yaitu:

1. Employee: karyawan swasta dan PNS

2. Self Employee: dokter, akuntan, konsultan, guru/dosen yang mandiri,  

3. Busines Owner seperti pemilik kantin, pemilik toko, pemilik usaha dsb, cukup terima laporan dapat duit.

4. Investor: pemilik saham, ga ngapa-ngapain dapat deviden 

Namun dalam prakteknya banyak jenis dan macam profesi, tapi herannya… banyak orang yang mengeluhkan ga punya kerjaan, sulit mencari pekerjaan, apa karena malas apa karena terlalu banyak milih pekerjaan. Pekerjaan akan muncul selama masyarakat membutuhkan makan, minum, pakaian, kesenangan, pendidikan, kesehatan, mencari penghasilan. Bila kita gali kebutuhan manusia tersebut maka akan banyak sekali profesi yang bermunculan, bila kebutuhan manusia adalah makan, maka pekerjaan yang bisa digali adalah penyedia sarapan pagi: tukang bubur ayam, ketoprak, nasi uduk, nasi rames dsb., belum lagi produk turunannya. Kita bisa menjadi penyedia bahan bubur ayam seperti penyedia beras, bawang, kacang, krupuk dsb…. Sungguh banyak sekali bila kita gali selama manusia masih ada di muka bumi maka disana pasti ada peluang, itu baru makan pagi belum lagi makan siang yang bermacam-macam selera, rasa dan menu serta lokasi. Lantas kenapa si koq manusia seringkali mengeluhkan sulitnya pekerjaan untuk mencari uang….?

 

MUDIK LEBARAN DAN ASSESORISNYA

Sudah tidak asing lagi bagi kita yang hidup di dunia Indonesia mendengar kata “mudik, pulang kampung, lebaran, sungkeman, halal bi halal. Definisi mudik sendiri saya sendiri ga ngerti pastinya, tapi mudik adalah aktifitas pulang ke kampung halaman menjelang liburan panjang atau lebaran. Konon di negeri asing perhelatan akbar mudik pulang kampung menjelang lebaran tidak begitu terasa dan tidak begitu menggema, namun di negeri kita Indonesia acara macam ini menyedot perhatian media massa, masyarakat dan pemerintah, bahkan lebih dahsyat lagi masyarakat kita terbiasa dengan pola, mencari uang dalam sebelas bulan kemudian mengumpulkannya untuk selanjutnya menghabiskan uang tersebut dalam kurun waktu iedul fitri/lebaran. Begitu penting dan seolah-olah kegiatan tersebut wajib untuk sekedar mudik pulang kampung bertemu sanak sodara, handai tolan dan khususnya orang tua. Mudik pulang kampung juga biasa dipakai sebagai ajang pamer atas keberhasilannya mencari rezeki di negeri orang atau di kota, pamer kekayaan dan pamer kendaraan. Maka tak heran bila setiap menjelang perayaan dan setelah perayaan Idul Fitri jalanan dari kota-kota besar menjadi padat oleh kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil. Kepadatan tersebut dikarenakan sepertinya mudik pakai angkutan umum menjadi kurang greget, dan ada juga si emang karena alasan angkutan umum tidak layak. Mudik telah menjadi trend, dan sejarah mudik pun perlu digali, kapan tradisi ini dimulai pun belum pernah saya baca sejarahnya. Sebagian besar masyarakat kita sudah tidak logis lagi untuk urusan mudik, apapun dilakukan asal bisa mudik, naik motir berempat untuk jarak tempuh yang begitu jauh, naik kereta berjubel-jubel, antri tiket kereta rela mengantri ber jam-jam bahkan sampai nginep sekalipun, beli kendaraan walaupun dengan cara mencicil demi bisa pulkam dengan mobil. Apalagi dengan kebijakan pemerintah untuk memberikan cuti bersama menjelang Idul Fitri atau setelahnya. Hal tersebut membuat animo masyarakat terhadap mudik semakin kuat. Musim mudik bukan hanya menguntungkan keluarga di kampung halaman tetapi juga banyak bermunculan pedagang musiman di sepanjang jalan yang dilalui pemudik, dan juga pedagang oleh-oleh yang muncul di kawasan sentra-sentra pusat oleh-oleh dan jajanan tradisional, masyarakat kita yang memanfaatkan musim lebaran untuk mencari uang yang datangnya hanya satu kali dalam setahun. Mungkin inilah salah satu dari berkah Ramadhan…………….

Berbuat dan bertindak mengikuti kata hati

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui, tapi sekedar memberikan gambaran tentang isi hati ini. Sering kita berpikir dan nggretes dalam hati ” oh indahnya bila dunia sesuai apa yang kita mau dan kehendaki” seperti:

  1. Menginginkan anak-anak kita menjadi anak yang penurut, baik, suka membantu, suka menolong, rajin belajar dan main dan melakukan aktifitas yang produktif dan bermanfaat dalam mengembangkan dirinya serta dapat membantu dirinya menghadapi masa depannya;
  2. Menginginkan isteri/suami yang selalu menuruti apa kata kita, seperti masak makanan kesukaan kita, selalu tersedia makanan dikala kita lapar, selalu tersedia segala keperluan-keperluan kita seperti pakaian, sepatu, dsb.;
  3. Menginginkan tetangga kita tidak mengganggu prifasi dan tidak membuat gaduh, menyenangkan dan tidak membuat masalah;
  4. Di tempat kerja kita pun selalu ingin mendapatkan apa yang kita inginkan;
  5. dsb

Itulah keinginan yang wajar, namun di dunia ini tidak semua berjalan dengan mulus, banyak masalah dan keinginan tidak sesuai dengan realitas. Keluarga (isteri dan anak-anak) mempunyai dunianya sendiri, mereka tumbuh dan berkembang bukan hanya dengan Bapaknya, ada Ibu, ada teman, tontonan, lingkungan sekolah, gen, kemampuan berpikir, latar belakang kehidupannya dsb. Intinya segala macam aspek akan mempengaruhi tindak tanduk dan tutur kata seorang anak maupun seorang isteri. Begitu juga dengan lingkungan kerja, manusia mempunyai berbagai macam prinsip hidup, tujuan hidup, nafsu dalam hidup, orientasi hidup dsb, sehingga manusia di dunia kerja tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam mengarungi dunia kerjanya. Ada pegawai dengan motivasi tinggi dalam bekerja, walaupun tidak ada atasan yang mengawasinya, ada pegawai yang tidak melakukan aktifitas apapun karena tidak ada atasan, ada pegawai yang ada atasan maupun tidak ada atasan tetap aja tidak melakukan hal-hal yang produktif, ada pegawai yang waktunya dipergunakan hanya untuk ngegame dan melakukan sesuatu sesuai keinginannya dan mengabaikan pekerjaan-pekerjaan kantor. Itulah manusia…

Semua itu karena berbagai macam latar belakang, pola pikir dan tujuan hidup seseorang/masyarakat. Walaupun berbagai macam latar belakang, bila semua orang yang hidup dalam sistem mempunyai tujuan hidup dan prinsip hidup yang sama maka masyarakat atau orang-orang yang hidup dalam sistem tertentu dapat diubah dan diarahkan mempunyai tujuan yang sama, sehingga keinginan kita untuk mewujudkan masyarakat/kelompok masyarakat yang berpikiran sesuai keinginan pemimpinnya dapat diwujudkan. Tetapi seringkali pemimpin dari kelompok masyakarat tidak mempunyai kemampuan untuk memberikan pembelajaran kepada orang-orang yang ada dalam kelompok itu agar mempunyai tujuan dan prinsip hidup yang sama.

Judul dan tulisan memang kurang nyambung, tapi namanya juga ngisi waktu. Kesimpulannya bila kita tidak mempunyai arah dan tujuan yang jelas, maka ikuti kata hati nurani kita, kemana dan apa yang harus kita kerjakan.

Semoga bermanfaat..

Pituah

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (QS. al-Israa : 7).