JALAN PANJANG MENUJU WIDYAISWARA

Assalamu’alaikum warrohmatullohiwabarokatuh

Semoga hari ini Anda dan kita semua senantiasa dalam kondisi sehat walafiat, sejahtera, fit dan kondisi prima dan detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu dijalani dengan selalu berupaya memberi warna kehidupan untuk bisa memberikan manfaat kebaikan bagi sesama, bagi insan dan makhluk yang hidup di dunia.

Tetaplah bersemangat, karena hidup ini anugrah, hidup ini karunia, hidup ini kesempatan untuk berkarya dan beramal memberikan kebaikan.  Perkenalkalkanlah nama saya Muhammad Soderi (Kang Deri), saat ini saya bekerja di Kementerian Keuangan pada Direktorat Jenderal Anggaran. Hari-hari ku banyak berkecimpung dalam aktifitas meneliti dan menelaah alokasi anggaran yang disampaikan kementerian negara/lembaga atau satuan kerja di lingkungan pemerintahan khususnya yang menggunakan alokasi anggaran pemerintah pusat yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).   Halah,,, saat ini kan ceritanya soal WI (Widyaiswara) bukan soal APBN, APBN di lain waktu dan kesempatan aja, nanti kita coba ulas dan bahas sama-sama ya. Kini saatnya ulasan mengenai jalan panjang menuju WI, apakah Anda tahu apa si Widyaiswara yang sering singkat WI? Bagaimana lika-liku menuju WI yang panjang dan terjal serta berliku? Apa tantangannya?

Widyaiswara adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar, dan/atau melatih Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) pemerintah. http://id.wikipedia.org/wiki/Widyaiswara, jadi jelas ya Widyaiswara adalah PNS  yang diberi tugas mendidik, mengajar dan melatih PNS pada lembaga Diklat, seperti guru pada lembaga pendidikan dasar dan menengah (SD, SMP atau SMA) atau seperti dosen pada perguruan tinggi.

Hidup adalah proses, bisa diibaratkan sebagai peta rute mengarungi kehidupan menuju kematian,  peta hidup satu orang dengan orang lain berbeda walaupun tujuannya sama menuju pada kebahagiaan dalam proses dan menuju kematian yang pada akhirnya ending bahagia di dunia menuju kampung akherat yang bahagia. Peta hidup manusia ada yang bisa diprediksi ada juga yang datang tiba-tiba,  tidak terduga sebelumnya. Bahwa kita faham apa yang akan dijalani sebenarnya sudah tercatat di atas sana. Garis kehidupan, garis tangan, takdir sudah tercatat,tanpa diketahui oleh manusia yang menjalaninya.

Ungkapan “Manusia berusaha, Tuhan menentukan” dapat kita maknai: seberapa keras usaha yang kita lakukan, apa pun hasilnya, kita seharusnya pasrah dan berserah, karena pasti ada “hukum alam” yang luar biasa indah di balik semua hasil yang didapat. Man proposes, God disposes,,,,,,,,,

Lah koq nglantur lagi,, kembali ke topik ya,, Widyaiswara ibarat dosen di Perguruan Tinggi atau guru di sekolah, widyaiswara mahasiswa nya adalah para pegawai negeri, ya mengajar pegawai negeri terkait tugas dan fungsi kementerian atau lembaga negara. Contohnya adalah pegawai kementerian pendidikan dan kebudayaan yang dilatih atau dididik, maka yang mengajar biasanya widyaiswara atau pegawai yang diberi tugas sebagai widyaiswara.

Widyaiswara sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, dan Peraturan MENPAN Nomor 14 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya, serta Peraturan Bersama Kepala Lembaga Administrasi Negara dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 dan 2 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya, terlihat jelas bahwa Widyaiswara adalah jabatan karier yang menuntut kompetensi tinggi di masing-masing jenjangnya. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan kerja, karakteristik, sikap dan perilaku yang mutlak dimiliki Widyaiswara untuk mampu melakukan tugas tanggungjawabnya secara profesional. Semua butir kompetensi Widyaiswara yang tercantum di bawah ini diturunkan dari uraian tugas jabatan fungsional Widyaiswara yaitu:

  1. Melakukan analisis kebutuhan diklat;
  2. Menyusun kurikulum diklat;
  3. Menyusun bahan ajar;
  4. Menyusun GBPP/SAP/Transparansi;
  5. Menyusun modul diklat;
  6. Menyusun tes hasil belajar;
  7. Melakukan tatap muka di depan kelas diklat;
  8. Memberikan tutorial dalam Diklat Jarak Jauh;
  9. Mengelola program diklat sebagai penanggung jawab dalam program Diklat;
  10. Mengelola program diklat sebagai anggota dalam program Diklat;
  11. Membimbing peserta diklat dalam penulisan kertas kerja;
  12. Membimbing peserta diklat dalam praktik kerja lapangan;
  13. Menjadi fasilitator/moderator/narasumber dalam seminar/lokakarya/diskusi atau yang sejenis;
  14. Memberikan konsultansi penyelenggaraan diklat;
  15. Melakukan evaluasi program diklat;
  16. Mengawasi pelaksanaan ujian;
  17. Memeriksa jawaban ujian;
  18. Melaksanakan kegiatan pengembangan profesi, dan penunjang tugas Widyaiswara

Alhamdulillah mudah-mudahan pengertian widyaiswara wis mudeng ya…

Selanjutnya saya ingin menceritakan jalan menuju Widyaiswara pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan pada Kementerian Keuangan.

Sebagai ujung tombak penyelenggaraan diklat di BPPK,Widyaiswara atau tenaga pengajar memegang peranan penting dalam mendukung keberhasilan program diklat. Hingga 1 April 2013 BPPK memiliki 164 Widyaiswara yang tersebar di Pusdiklat, Balai Diklat Keuangan (BDK), dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). BPPK berkewajiban memberikan layanan sebaik-baiknya di bidang pendidikan, pelatihan dan pengembangan kepada pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan untuk memperlancar pencapaian visi dan misi Kementerian Keuangan. Jumlah WI dibandingkan dengan jumlah pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan yang mencapai 60.000 pegawai sangatlah kurang, karena hanya 0,27% dari jumlah pegawai atau 1 orang Widyaiswara melayani 365 orang pegawai.

Berdasarkan hal tersebut, maka BPPK merasa perlu untuk menambah jumlah Widyaiswara secara kuantitas sangat kurang, maka  melalui Surat Pengumuman Menteri Keuangan Nomor Peng-2/MK-12/2013 tanggal 30 Mei 2013 Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK)  menginformasikan dan mengajak pegawai yang memenuhi syarat untuk mendaftar menjadi Widyaiswara BPPK-Kementerian Keuangan.

Atas dasar pengumuman tersebut selanjutnya saya memberanikan diri mendaftar untuk menjadi calon WI di BPPK. Keberanian diri untuk mendaftar diantaranya karena merasa sudah berpengalaman mengajar. Sejak tahun 2011 saya berpengalaman mengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)  untuk mata kuliah Sistem Penganggaran dan Sistem Monitoring dan Evaluasi Anggaran. Pengalaman mengajar itu meningkatkan kepercayaan diri dan merasa mampu untuk menjadi Widyaiswara, walaupun sebenarnya dalam persyaratan untuk mendaftar menjadi WI tidak ada klausul yang menyebutkan harus pernah menjadi pengajar. Syarat-syarat seleksi penerimaan widyaiswara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun Anggaran 2013 yaitu meliputi:

A. Persyaratan Umum:1. PNS Kementerian Keuangan; 2. Pangkat serendah-rendahnya Penata Muda golongan/ruang III/a dengan masa kerja seluruhnya serendah-rendahnya 10 tahun; 3. Berijazah serendah-rendahnya Diploma IV STAN atau Sarjana (S-1) yang telah dilaporkan dan diakui oleh isntansi, sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan; 4. Usia setinggi-tingginya 48 (empat puluh delapan) tahun, terhitung pada tanggal pengumuman ini; 5. Sehat jasmani dan rohani; 6. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir; 7. Tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang dan berat berdasarkan PP No.30 Tahun 1980  dan/atau PP No.53 Tahun 2010 dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir; 8. Tidak sedang dalam proses atau menjalani hukuman disiplin  berdasarkan Peraturan Pemerintah No.53 Tahun 2010; 9. Bersedia ditempatkan di semua Unit Diklat Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (Pusdiklat/STAN/Balai Diklat Keuangan). Persyaratan administrasi meliputi: 1. Surat Pengantar dari Setditjen untuk pindah status kepegawaian apabila dinyatakan lulus dalam seluruh tahapan seleksi; 2. Surat keterangan sehat (general check-up/medical record)  yang dikeluarkan oleh rumah sakit yang ditunjuk oleh pemerintah (saat tahap Wawancara dan Pemaparan Bahan Ajar); 3. Surat keterangan tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang dan berat; 4. Surat keterangan tidak sedang dalam proses atau menjalani hukuman disiplin; 5. Surat pernyataan bersedia ditempatkan di semua Unit Diklat BPPK (Pusdiklat/Balai Diklat Keuangan); 6. Daftar Riwayat Hidup; 7. Pasfoto berwarna berlatar belakang merah; 8. Membuat tulisan tangan terkait alasan memilih menjadi Widyaiswara.

Prosedur seleksi sebagaimana diumumkan pada surat Pengumuman yang disampaikan Kementerian Keuangan meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Seleksi Administrasi; 2. Tes Assesment; 3. Wawancara dan Pemaparan Bahan Ajar; 4. Diklat Calon  Widyaiswara.

Proses seleksi penerimaan Widyaiswara, mulai dari tahapan seleksi administrasi Namun untuk tahapan seleksi penerimaan calon widyaiswara tahun 2013 terdapat tahapan tambahan yang semula tidak ada dalam pengumuman, yaitu Diklat Berbasis Kompetensi untuk Calon Widyaiswara dan selanjutnya dilakukan proses reasesment bagi calon yang tidak memenuhi salah satu persyaratan saat test assestment.

Tahapan administrasi alhamdulillah saya termasuk lolos dengan jumlah peserta Salah satu diantara peserta yang mendapat lulus dengan syarat adalah saya bersama 11 orang peserta lain, jumlah seluruhnya menjadi 12 orang. Lulus dengan syarat yaitu  harus mengikuti Diklat Berbasis Kompetensi dan lulus reasestmen.

Selamat

Dipublikasi di MOTIVASI | Meninggalkan komentar

Cara Ampuh Mengatasi Rasa Malas

by deri
Huh,,, target pekerjaan yang harusnya segera diselesaikan, masih terbengkalai didalam tas kerja, atau di meja kerja, setiap hari di bawa ke rumah agar segera diselesaikan. Tapi mengapa tangan ini rasanya males untuk bergerak, mengapa seperti ada beban dalam pikiran untuk segera meraih tugas, mengapa, mengapa, mengapa. Ya mungkin rasa malas yang menyelimuti diri, atau buntu, sehingga pekerjaan yang sebenarnya bisa segera dicicil, masih juga dionggokan , entah apa lagi yang ditunggu, ya menunggu deadline, menunggu ditagih, menunggu inspirasi, menunggu tangannya ada yang menggerakan, menunggu digebuk, menunggu ada orang yang melecut, atau bahkan menunggu contoh yang telah dibuat orang lain, menunggu menerima hadiah, menunggu rasa sakit, menunggu apa lagi,,,,. Barangkali teman-teman pernah merasakan hal seperti ini, baru mencoba untuk menyelesaikan tapi mentok, tidak dilanjutkan, alam bawah sadar meyakini bahwa ini sulit untuk segera diselesaikan, alam bawah sadar ,, ah masih lama koq target penyelesaiannya dll., sehingga pekerjaan kecil yang harusnya dalam satu hari bisa diselesaikan, namun karena dipikir-pikir terus, tidak selesai dengan sendirinya. Apakah ini yang namanya malas, tidak sepenuh hati menjalankannya, dengan berbagai alasan seperti di atas.
Kemalasan adalah musuh produktivitas. Jika kita malas, tidak ada cara lain kita bisa mencapai hal-hal yang berarti. Kita mungkin menunda-nunda melakukan sesuatu, atau bahkan jika kita melakukannya, kita melakukannya dengan setengah hati. Hasil berkualitas tinggi tidak akan tercapai dengan cara-cara seperti itu.
Jadi kita perlu untuk mengatasi kemalasan. Berikut adalah adalah tips yang saya anggap berguna untuk mengatasi kemalasan:

1. Tetapkan batas waktu minimum untuk memulai
Hal yang paling sulit adalah untuk memulai – sisanya akan lebih mudah. Jadi tetapkan sedikit waktu, seperti 15 menit atau bahkan 5 menit, dan mulailah mengerjakan tugas sampai waktunya habis. Setelah itu, akan lebih mudah memutuskan untuk melanjutkan.

2. Menciptakan rasa urgensi
Ini adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mengalahkan kemalasan. Jika Anda memiliki rasa urgensi, maka akan lebih mudah untuk bangun dan melakukan apa yang perlu Anda lakukan. Salah satu cara untuk menciptakan rasa urgensi adalah dengan menetapkan tenggat waktu.

3. Lihatlah pada manfaat
Salah satu alasan kita menjadi malas karena kita hanya melihat kesulitan dari tugas ke depan tanpa memikirkan manfaat yang akan kita dapatkan ketika kita menyelesaikannya. Jadi fokuskan pikiran anda pada manfaat bukan kesulitan.

4. Menetapkan hadiah untuk diri sendiri
Jika manfaat terlalu jauh dicapai di masa depan, maka mungkin tidak cukup kuat untuk memotivasi anda untuk bertindak sekarang. Dalam kasus tersebut, anda dapat memberikan diri anda hadiah lebih cepat. Anda mungkin membiarkan diri anda untuk makan makanan favorit anda atau menonton bioskop sebagai hadiah anda telah menyelesaikan tugas.

5. Pikirkan tentang apa yang akan terjadi jika Anda tidak melakukannya
Sementara berpikir tentang manfaat yang dapat memotivasi Anda, pikirkan juga tentang kerugian jika anda tidak melakukan tugas-tugas tersebut. Apa konsekuensi jika anda tidak melakukan apa yang seharusnya anda lakukan?

6. Cari partner
Partner dapat memotivasi Anda untuk mengatasi kemalasan. Meskipun motivasi dari dalam diri adalah yang terbaik, kadang-kadang kita juga perlu motivasi dari luar.

7. Meminimalkan waktu idle (kosong)
Nyatakan tekad anda untuk meminimalkan waktu idle. Cobalah untuk melakukan sesuatu sesering mungkin. Jika Anda memiliki pola pikir ini, akan lebih mudah untuk mengatasi kemalasan.

8. Bagilah tugas menjadi bagian-bagian kecil
Kita bisa menjadi malas jika kita merasa kewalahan oleh skala tugas. Dalam kasus tersebut, membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil yang lebih terkelola, dan kemudian tangani mereka satu per satu. Ingatlah prinsip cara makan seekor gajah adalah dengan cara melakukan satu gigitan kecil pada sekali waktu.

9. Putuskan apa tindakan selanjutnya
Kita mungkin menunda-nunda karena kita tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jadi lihatlah pada tugas anda dan putuskan apa tindakan selanjutnya. Setelah anda tahu persis apa yang harus dilakukan, maka akan lebih mudah untuk memulai.

10. Melakukan satu hal pada sekali waktu
Ini mungkin tampak jelas, tetapi kita bisa menjadi malas karena kita mencoba untuk melakukan lebih dari satu hal pada sekali waktu. Itu membuat kita merasa kewalahan. Jadi pilih melakukan hanya satu hal pada sekali waktu dan mengabaikan sisanya.

11. Tantang diri anda

Buatlah tugas menjadi menyenangkan dengan mengubahnya menjadi sebuah tantangan. Misalkan : Dapatkah anda menyelesaikan tugas-tugas? Banyak orang bisa melakukannya, jadi mengapa tidak bisa Anda?

12. Tuliskan kemajuan Anda
Anda akan lebih termotivasi jika anda dapat dengan mudah melihat efek dari kemalasan. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menuliskan kemajuan anda setiap hari. Beri tanda setiap kali anda menyelesaikan tugas. Kemalasan akan memberikan lembar kosong, dan anda dapat dengan mudah melihat betapa buruknya hal itu.

13. Melihat kemajuan orang lain
Mengetahui seberapa jauh anda di belakang dibandingkan dengan orang lain juga bisa memotivasi anda. Lihatlah hal-hal baik pada orang lain tersebut, pada area mana bisa anda perbaiki, dan biarkan mereka menginspirasi anda.

14. Menyelaraskan diri dengan apa yang penting menurut anda
Sementara semua tips di atas bisa membantu anda, maka akan lebih mudah untuk mengatasi kemalasan jika anda melakukan sesuatu yang penting menurut anda. Anda akan memiliki kobaran api dalam diri yang membuat anda ingin bertindak. Jadi temukan sesuatu yang penting tersebut dan selaraskan diri sebanyak mungkin dengan hal itu.
***
Semua itu adalah tips yang saya pelajari. Apakah Anda memiliki tips lain untuk mengatasi kemalasan? Jangan ragu untuk berbagi di komentar.

 

Dipublikasi di MOTIVASI | Meninggalkan komentar

JALAN HIDUP

Mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Allah lainnya ?. Salah satunya adalah karena manusia memiliki “kebebasan hati” untuk memilih jalan kehidupannya. Manusia memiliki kemerdekaan hati untuk mengarahkan pilihan jalan hidupnya. Kemerdekaan dan kebebasan hati inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Sesungguhnya dihadapan setiap manusia telah terbentang dua pilihan jalan kehidupan. Manusia diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih, apakah kita akan memilih jalan keberhasilan atau kegagalan, memilih jalan kehidupan positif atau kehidupan negatif, memilih memiliki motivasi tinggi atau dikendalikan kemalasan, memiliki keberanian atau ketakutan, dll. Kita sendirilah yang menjadi penguasa hati kita sendiri. Kita sendirilah yang sepenuhnya mengendalikan hati kita dan akan kita arahkan untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh. Apakah akan memilih mengarahkan hati mengikuti tarikan positif “nilai-nilai spiritualisme” atau mengikuti tarikan negatif “nilai-nilai materialisme”. Apapun yang akan kita pilih, dapat memberikan pengaruh terhadap pikiran, sikap, tindakan, perilaku dan langkah-langkah yang akan kita lakukan dalam kehidupan ini. Dan hal itu yang akan menjadi sebab atau menciptakan hasil yang akan diperoleh dalam kehidupan nantinya. Apakah Dua Pilihan Jalan Kehidupan Itu ? Imam Al-Ghazali seorang ulama muslim mengatakan bahwa, “Manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai dirinya, mencintai kesempurnaannya, serta mencintai eksistensinya. Sebaliknya manusia cenderung membenci hal-hal yang dapat menghancurkan, meniadakan, mengurangi atau memutuskan kesempurnaan itu.” Secara fitrah, kebanyakan manusia memiliki kecenderungan untuk selalu berusaha memenuhi eksistensi diri dan kesempurnaan dirinya. Sayangnya kebanyakan manusia seringkali mengekspresikannya eksistensi diri dan kesempurnaan diri melalui berbagai simbul-simbul keberhasilan, melalui berbagai simbul-simbul kesuksesan, melalui berbagai pencapaian-pencapaian yang lebih bersifat materialisme duniawi semata. Banyak manusia telah salah memaknai eksistensi dan kesempurnaan dirinya dengan menempatkannya dalam simbul-simbul duniawi semata. Inilah yang menjadikan banyak orang yang terjebak hanya mementingkan satu sisi kehidupan dunia semata. 1. Mengabaikan Suara Hati Nurani. Banyak manusia yang kurang memahami potensi kekuatan hatinya dan mengabaikan suara hati nuraninya. Mereka inilah yang kemudian banyak yang terjebak dalam berbagai masalah dan model kehidupan yang salah dan hanya mendewakan kesuksesan material duniawi dengan mengabaikan nilai-nilai suara hati nurani. Mereka tidak dapat mendayagunakan kedahsyatan hati dan akal pikirannya. Memilih jalan hidup dengan mengabaikan suara hati nuraninya akan membawa manusia pada keadaan yang serba tanggung, serba tidak jelas dan sangat berpotensi membawa manusia pada kerendahan yang akan berakhir dengan kegagalan hidup. Hal ini kemudian melahirkan pandangan seseorang yang tidak utuh, tidak lengkap atau malah tidak tepat, dalam memahami kodrat dirinya. Mereka tidak memahami secara utuh dan benar hakekat hidupnya, tidak memahami kodratnya sebagai manusia, tidak mengenali hakekat keutamaan hidupnya dan tidak memahami posisi dirinya sebagai “abdi” dari Tuhannya. Bahkan tidak mengerti apa yang paling penting dalam hidupnya dan kemana tujuan tertinggi kehidupannya. Manusia dengan mudah meremehkan hakekat keberadaan dirinya di dunia, mengecilkan kebermaknaan hidupnya, tidak memiliki kekaguman terhadap berbagai anugerah dan potensi dalam dirinya. Dalam mengambil keputusan-keputusan penting dengan mudah mengabaikan suara hati nuraninya yang merupakan pusat orbit tertinggi kehidupan. Inilah yang kemudian melahirkan berbagai masalah kemerosotan moral individu dan mengakibatkan manusia terjebak dalam berbagai model kehidupan salah masa kini.

2. Mengikuti Suara Hati Maksudnya menjalani hidup dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber dari dalam hatinya. Menempatkan hati nurani sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupannya. Yakni sebuah jalan hidup yang dapat membawa manusia pada derajat kemuliaan dan keagungan insani, bahkan lebih tinggi dari malaikat sekalipun. Beruntunglah mereka yang telah memilih jalan hidup berdasarkan suara hati nuraninya. Berbahagialah mereka yang dapat menemukan suara hatinya dan senantiasa mengorbit pada garis edar yang berpusat pada suara hatinya. Menggunakan suara hatinya sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupannya. Karena mereka akan memahami hakekat hidupnya, mengenali siapa Tuhannya yang sebenarnya. Dengan mengenali siapa Tuhannya mereka akan memahami dan meneladani sifat-sifat kemuliaan Tuhan yang sudah bersemayam “built in” di dalam hatinya. Mereka akan mampu menggunakan kecerdasannya untuk membaca rambu-rambu atau “rules” yang tertulis pada alam semesta dan menemukan tujuan tertinggi kehidupannya. Inilah manusia yang dapat memahami kodratnya dirinya secara utuh dan benar. Nah, apakah kini Anda sudah dapat melihat jalan mana yang lebih utama untuk dipilih ? Apakah Anda sudah memahami jalan mana yang menjadi sumber masalah utama yang membelenggu kehidupan berjuta manusia modern masa kini ? Apakah Anda sudah dapat menemukan pilihan jalan kehidupan yang dapat membawa pada kesuksesan dan kemuliaan hidup ? Demikianlah, mengikuti suara hati adalah sumber motivasi tertinggi yang dapat mengarahkan manusia pada sukses dan kemuliaan hidup ini.

Semoga bermanfaat. Salam Motivasi Nurani.

*** Eko Jalu Santoso adalah penulis Buku The Art of Life Revolution yang diterbitkan Elex Media Komputindo dan Founder Motivasi Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Dipublikasi di MOTIVASI | Meninggalkan komentar

Menemukan Minat Diri

Menyimak perjalanan hidup seorang J.K Rowling yang ditulis oleh Lindsey Fraser (Gramedia Pustaka Utama: 2004)  ternyata bukan kita saja yang mengalami nasib dimana pekerjaan yang kita jalankan hari ini masih jauh dari pekerjaan yang kita cita-citakan. Sebelum kini mendapatkan pekerjaan yang diimpikan sejak lama sebagai penulis, ternyata wanita yang karya tulisnya pernah dibilang dapat menggairahkan industri penerbitan lewat buku serial  Harry Potter ini, tidak hanya merasa pernah ‘salah’ memilih pekerjaan tetapi juga pernah merasa salah memilih fakultas dan itu tidak hanya satu kali.

Karena saking lamanya tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai impian, sambil menekuni pekerjaan sebagai sekretaris, guru, dan terpaksa mengambil sertifikat tambahan karena tuntutan kerja, hampir saja J.K Rowling memutuskan tidak pernah lagi mengingat pekerjaan idaman itu. “Ketika masuk usia 26 tahun, saat itulah aku malah berpikir aku tak punya peluang sama sekali menjadi penulis”, begitulah yang pernah diakui.

Menyiasati omongan orang lain sekantor yang paling-paling akan mengatakan “sudahlah berhenti dari bermimpi”, semua aktivitas yang berkaitan dengan mimpinya menjadi penulis dilakukan secara diam-diam  di tempat yang kira-kira orang lain tidak menaruh curiga atau alasan untuk ngomong macam-macam, apalagi sampai menceritakan orang lain kalau di dalam dirinya ada mimpi menjadi penulis.

Ide untuk menampilkan Harry Potter sendiri diperoleh di dalam perjalanan naik kereta dan itu sebelum akhirnya menjadi buku, sudah kira-kira lima tahun di dalam pikirannya. Ketika buku selesai ditulis dan dikirim ke sebuah agen dan penerbit, keduanya menolak dan baru bisa diterima tahun 1997 lewat agen kedua Christopher Little.  “Butuh waktu setahun untuk menemukan penerbit yang bersedia menerbitkannya”.

 

Meminjam istilah yang digunakan oleh Paulo Coelho, seorang yang pernah menjabat sebagai tokoh spiritual UNESCO sekaligus masuk dalam satu dari 15 pengarang terbesar sepanjang sejarah dalam “The Alchemist”, mungkin inilah yang disebut Legenda Pribadi yang bisa diartikan kira-kira sebuah suara cita-cita / keinginan  di dalam diri yang terus bersuara sampai ketika kita menolak mendengarkan pun, suara itu tetap saja bersuara.

Semua orang sebenarnya memiliki suara-suara itu di dalam dirinya tetapi yang berbeda adalah bobot “kedengarannya” di telinga masing-masing orang. Mungkin tidak berbentuk definitif seperti ilmu matematika melainkan sebuah abstraksi yang menunjukkan di mana karta karun kita berada.

Dalam The Alchemis, Paulo Coelho menggambarkan seorang pemuda Andalusia, Spanyol, bernama Santiago yang ditunjukkan oleh mimpinya berkali-kali bahwa kalau dirinya pergi ke Kairo akan menemukan harta karun di bagian tertentu di Piramida sana. Meskipun orangtuanya sudah membuat kavling agar menjadi seorang pastur  yang memahami kitab suci, tetapi Santiago tetap nekat pergi karena dipikirnya, menemukan harta karun lebih penting, dan di samping itu, supaya dia tidak menjadi pengembala domba yang seperti pengembala lain di kampungnya.

 

Apa yang didapat Santiago setelah sampai di Piramida benar-benar membuat dirinya menyesali untuk ke sekian kalinya mengapa dia mempercayai mimpi. Perjalanan dari Spanyol ke Kairo sambil membawa domba dengan berbagai macam peristiwa yang tidak mengenakkan, termasuk berurusan dengan serangan segerombolan penjahat yang mengambil tas dan menendang tubuhnya sampai terkapar di tanah hingga ada satu dari kawanan penjahat itu yang menghampirinya untuk mengeluarkan makian: “ Kalau hanya bicara mimpi, akupun pernah bermimpi menemukan harta karun di sekitar gereja tua di Andalusia tempat di mana para pengembala bermalam. Tetapi aku bukan lelaki bodoh macam kau yang mempercayai mimpi !”

Untunglah sebelumnya Santiago sudah belajar bagaimana membaca petunjuk dari Sang Alkemis (seseorang yang bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan). Baliklah Santiago ke Spanyol menuju gereja tua yang diteriakkan penjahat itu yang tak lain adalah tempat dirinya dulu bermalam bersama domba berbantal buku tebal. Ternyata, tepat tidak jauh dari pohon Sangkriti yang dulu biasa dia pakai untuk menjemur jaketnya, di situlah harta karun yang bisa mengubah hidupnya berada.

Nah, pengalaman J.K Rowling dan kearifan Paulo Coelho meskipun sepintas terlalu jauh tetapi sebetulnya  adalah kenyataan hidup yang terjadi di tempat yang paling dekat dengan kita di mana orang terkadang perlu pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang paling dekat dengan dirinya dan di dalam dirinya. Menirukan pesan Alkemis kepada Santiago: “orang harus pergi supaya bisa kembali”.

 

Proses Penyelarasan Diri

Tidak ada yang tahu pasti di mana dan ada apa di balik peristiwa yang menimpa karir kita pada hari ini . Tetapi belajar dari sejumlah pengalaman orang yang sudah berhasil keluar dari masalah ini, beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah:

1. Tetap tekun dan menjaga komitmen pada pekerjaan yang dihadapi

Tetap menjalani pekerjaan saat ini sepenuh hati (mindfulness) sambil mengendalikan mimpi profesi idaman agar konsentrasi kita tetap terfokus pada realita saat ini yang harus kita berdayakan dan upayakan sebaik mungkin. Kalau kita serius, produktif dan “cepat belajar”, tidak mustahil kita semakin cepat mengarah ke jalur yang sesuai dengan minat diri dan tujuan hidup.

2. Memilih waktu yang tepat dan konsisten untuk melakukan apa yang diminati

Tetap lah menyisakan sebagian waktu untuk melakukan hal yang dibutuhkan oleh minat atau pun profesi idaman itu dengan setia dan tekun, namun bisa mendatangkan kenikmatan – bukan malah menjadi beban.

3. Menjalin hubungan dengan komunitas 

Tetaplah  menjalin hubungan dengan orang / komunitas yang memiliki minat yang samat, atau berasal dari kalangan profesi idaman itu. Menjalin hubungan minimalnya akan membuat kita tidak lupa bunyi suara hati atau bisa jadi akan menjadi jalan bagi kita menemukan orang seperti yang ditemukan Santiago, sosok yang akan membimbing kita tentang  bagaimana mengubah mimpi menjadi kenyataan.

4. Menjaga fokus, arah dan tujuan hidup

Tetap lah menjaga fokus dan aliran pikiran (focus & flows) bahwa – meskipun terkadang takut atau ragu, cemas dan tidak yakin, tetaplah berfokus pada tujuan kita, minat dan profesi idaman. Pekerjaan yang saat ini ada di tangan adalah sasaran-perantara yang akan mengantarkan kita ke arah yang sebenarnya kita inginkan. Jadi, pekerjaan sekarang tidak kalah pentingnya dengan minat dan tujuan hidup kita. Tanpa pekerjaan yang sekarang berada di tangan, maka kita tidak akan bisa mencapai tujuan hidup kita.

5. Memahami petunjuk hidup

Membaca dan memahami petunjuk di jalan yang diisyaratkan oleh setiap peristiwa di dalam dan di luar diri serta hidup kita,  karena hanya dengan intuisi yang sensitif lah kita akan peka dan memahami apa yang harus dilakukan.

 

Kesimpulan

Apakah dengan membaca petunjuk itu sudah berarti kita memiliki garansi akan mencapai keselarasan hidup, antara karir, pekerjaan dengan minat? Menurut pengalaman Arnold Schwarzenegger, itupun menjadi pilihan kita. “Isi pikiran adalah batasan-batasan yang sebenarnya bagi kita. Sepanjang pikiranmu bisa mem-visualkan fakta yang bisa kamu lakukan, maka kamu benar-banar bisa melakukannya selama kamu meyakininya 100 persen”.  Hari depan itu – kata Henry Ward Beecer – hanya memiliki dua pegangan. Kita bisa berpegang pada “keragu-raguan”, dan bisa juga berpegang pada “keyakinan”. Artinya, semua kembali pada kekuatan batin dan pilihan hidup kita. Semoga bermanfaat.

(Penulis : Ubaydillah)

 

Dipublikasi di MOTIVASI | Meninggalkan komentar

Pekerjaan Tidak…

Pekerjaan Tidak Sesuai Dengan Minat, Apakah Saya Telah Gagal ?

Idealnya kita bekerja sesuai minat atau sesuai latar belakang pendidikan, dan kebanyakan orang pasti berpikir demikian. Namun kenyataan seringkali berbeda, dikarenakan kondisi atau tuntutan yang ada sehingga mengharuskan kita ‘banting setir’ dan menekuni bidang yang tidak kita sukai atau diluar keahlian kita semula.

 

Apakah ini artinya Anda harus menyesali keadaan dan tidak bisa menemukan kegairahan dalam bekerja ? Apakah artinya Anda telah gagal ? Jawabannya : TIDAK, dan adalah merupakan pilihan bagi Anda untuk menjadikan hidup dan pekerjaan anda menyenangkan atau tidak, yaitu dengan mengubah cara berpikir Anda sendiri. Anda sendiri yang menentukan makna dari pekerjaan saat ini, yang pastinya berdampak pada keberhasilan di masa mendatang.

Benarkah Anda Telah Gagal ?

Seringkali kegagalan berawal dari persepsi atau pemikiran diri kita sendiri. “Karena teman-teman berhasil di bidang yang sesuai pendidikan mereka, karena saya malu jika ditanya orang tua, saya malu karena sudah buang waktu sekolah lama-lama tapi tidak bisa menerapkan, atau karena saya tidak suka jadi ini berat bagi saya…” merupakan beberapa alasan mengapa kita menganggap diri kita gagal.

Anda bisa menilai diri gagal, namun orang lain belum tentu menganggap demikian. Banyak sekali alasannya. Bahwa Anda tetap bisa menjalankan pekerjaan dengan baik atau bisa memberikan kontribusi bagi kesuksesan kerja tim, bahwa Anda adalah rekan kerja yang menyenangkan, anggapan bahwa Anda sudah sangat membantu perekonomian keluarga, bahwa Anda tidak lagi tergantung secara finansial pada orang tua, menjadikan orang lain tidak pernah menganggap diri Anda gagal dalam bekerja.

Berhasil atau gagal, apa tolok ukurnya ?

Perlu diingat bahwa penilaian akan keberhasilan atau kegagalan tidak melulu ditentukan oleh kita sendiri, namun juga orang lain atau lingkungan kita. Standar yang kita pakai juga menentukan arti keberhasilan atau kegagalan. Anda menganggap keberhasilan dinilai dari materi, pengakuan lingkungan, kesenangan pribadi, minat dan idealisme, atau ada hal lain ? Anda tentunya tidak bisa memborong semuanya karena hal ini akan membuat Anda makin stress dan terbebani. Ingat, tidak ada orang yang sempurna. Buatlah prioritas mengenai target atau standar Anda sendiri, dengan dasar pemikiran yang paling realistis.

Jika Anda merasa materi paling penting saat ini, tentunya Anda harus cukup realistis dan tidak lagi memusingkan mengenai suka tidak sukanya anda dengan bidang kerja, dan lebih fokus pada bagaimana mengoptimalkan kemampuan dan mengejar target kerja sebaik mungkin. Jika pengakuan lingkungan menjadi prioritas, apapun bidang kerja Anda, asalkan bisa menghasilkan kinerja terbaik otomatis Anda bisa mendapatkan pengakuantersebut.

Walaupun minat Anda sesuai kadang kinerja masih banyak faktor lain pada diri Anda yang bisa berpengaruh pada kepuasan dan keberhasilan, termasuk faktor kemampuan, karakter pribadi, atau sikap kerja, selain masih segudang faktor eksternal yang perlu disiasati. Selain itu, karena kita mahluk sosial, biasanya peran lingkungan masih tetap kuat, demikian pula faktor terpenuhinya kebutuhan hidup. Artinya apabila Anda benar-benar fokus pada minat dan idealisme, maka Anda harus berbesar hati mencari kesempatan yang sesuai, walaupun harus dengan bekerja sangat keras dan terpaksa mengorbankan prioritas lain untuk saat ini, misalnya dalam hal materi atau pendapatan dan sebagainya.

 

Apa yang Harus Dilakukan ?

 

a. Anda bisa mulai dengan membuat checklist mengenai plus minus pekerjaan Anda sekarang. Apa yang Anda senangi dan tidak, apa manfaatnya bagi Anda dan apa kerugian yang Anda dapatkan sejauh ini. Anda juga bisa mencari informasi terbaru mengenai segala peluang dan ancaman terkait pekerjaan tersebut saat ini dan mendatang, baik secara spesifik di perusahaan Anda bekerja atau secara umum di bisnis yang anda tekuni.

 

b.    Cermati pula kekuatan dan kelemahan diri Anda berdasarkan masukan dari rekan kerja, atasan atau keluarga, selain pengamatan Anda terhadap keberhasilan proyek kerja atau tugas-tugas sejauh ini.

c.    Apabila Anda memutuskan untuk tetap di bidang kerja saat ini, masih banyak cara mengoptimalkan kinerja Anda dan mendapatkan pengakuan atas keberhasilan Anda. Susun target-target spesifik, mulailah dari jangka pendek dan yang paling realistis agar Anda bisa memenuhinya secara optimal.

d.    Jika Anda memutuskan kembali ke ‘jalur’ pendidikan atau minat Anda, buatlah rencana yang matang dengan memperhitungkan segala aspek, kerugian yang Anda akan alami di waktu dekat serta tindakan antisipasinya. Cari tahu ke sebanyak mungkin rekanan atau sumber informasi lain (website, buku, koran dan sebagainya) demi melengkapi analisa Anda. Perlu diingat juga, Anda perlu mencermati lagi apakah kesempatan itu harus dalam bentuk pekerjaan formal ataukah bisa dilakukan secara paruh waktu, atau bahkan berusaha mandiri (wiraswasta) ? Ingat, Anda tetap harus mengukur kemampuan dan meramalkan keberhasilan Anda, dan memulai tindakan secara hati-hati, sehingga Anda bisa mengevaluasi setiap langkah dan tidak gegabah dalam bertindak.

Apapun pilihan Anda, Andalah yang menentukan keberhasilan atau kegagalannya selama Anda sudah memperhitungkan betul setiap langkah dan mengantisipasi segala resikonya. Semoga sukses !

 

Dikutip dari : http://teras-informasi.blogspot.com

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Bekerja untuk Passion

Risca Andalina – Universitas Pelita Harapan – @riscaandalina

Halo, perkenalkan lagi nama saya adalah Risca Andalina. Saya merupakan YOT CA dari Pelita Harapan. Di usia saya yang sudah menginjak 20, saya rasa tidak berlebihan jika saya sudah mulai repot berencana tentang masa depan saya, termasuk apa saja yang ingin saya lakukan, pekerjaan dan bagaimana saya bisa hidup mandiri dengan uang saya sendiri.

Saya bukan berasal dari latar belakang pendidikan ekonomi atau keuangan, namun apapun latar belakang pendidikan yang kita miliki, saya rasa penting untuk kita buat melek finansial. Setidaknya kita sadar atas pemasukan dan pengeluaran yang kita buat. Sehingga kita tidak akan termasuk orang-orang yang besar pasak dari pada tiang, atau orang-orang yang menyia-nyiakan uang untuk hal yang tidak berguna, padahal masih banyak orang-orang di luar rumah kita yang setengah mati mendapatkan uang Rp. 1000.

Buku Rich Dad Poor Dad karangan Robert Kiyosaki telah banyak memberikan inspirasi untuk saya, termasuk berani menyatakan bahwa janganlah bekerja untuk uang, namun uang harus bekerja untuk kita. Itulah perbedaan orang kaya dan orang miskin. Karena sesusungguhnya bekerja itu harusnya untuk belajar. Bahkan saya menganggap bahwa bekerja itu seharusnya untuk memuaskan batin kita karena kita mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, bukannya bikin stress karena kita bekerja hanya untuk mencari uang meskipun pekerjaan tersebut bukanlah yang kita senangi.

Melalui buku tersebut, saya sadar betul bahwa berinvestasi atau memiliki usaha sendiri adalah beberapa cara untuk membuat uang bekerja untuk kita. Karena dengan cara seperti itu, uang bisa datang dengan sendirinya, tanpa kita harus banyak melakukan pekerjaan.

Uang dan Pekerjaaan, mau dibawa kemana sih sebenarnya tulisan saya ini?mungkin ada beberapa dari kalian yang bertanya seperti itu. Namun dalam tulisan ini, saya hanya ingin berbagi mengenai sebuah masalah yang pernah saya hadapi juga. Permasalahan masa muda dimana kita harus memilih suatu pilihan yang akan memberikan dampak jangka panjang, yaitu pilihan pekerjaan atau carrier yang ingin dipilih dan ditekuni di masa depan.

Saat seorang mahasiswa lulus dari universitas, mulailah reality memunculkan tipu dayanya untuk membuat manusia bingung, ragu, dan goyah dari impiannya. Para pembunuh mimpi membuat para pemimpi mengecilkan impiannya. Mungkin salah satu dari kalian bermimpi untuk menjadi sesuatu, namun para pembunuh mimpi mengatakan: “Emangnya kamu bisa hidup dengan impian kamu itu?uang yang dihasilkan impian mu itu kecil, tidak ada apa-apanya”

Lalu pilihan pun mulai bertindak, apakah anda lebih memilih menjadi apa yang selalu diimpikan atau mengikuti tipu daya kehidupan yang menyatakan kita bekerja untuk uang? Melalui tulisan ini saya ingin sekali berbagi tips kepada kalian yang merasakan hal-hal seperti itu. Pertama adalah selalu bekerja sesuai passion kalian. Apapun jenis pekerjaan itu, meskipun orang lain menganggapnya rendah, namun jika pekerjaan itu memberikan sisi positive untuk hidupmu dan orang disekitarmu, JUST DO IT and GIVE YOUR BEST!. Setelah itu, jangan menabung!namum berinvestasilah. Karena dengan berinvestasi, uangmu dapat berlipat ganda, meskipun kamu tidak mengerjakan apa-apa. Setiap uang yang kamu punya, kumpulkan, dan mulai berinvestasi. Bisa dengan investasi property, batangan emas, atau membuka usaha yang sesuai dengan passion kamu. Banyak-banyak baca buku juga dan selalu belajar dari setiap kegagalan, karena sebaik-baiknya guru di sekolah, kehidupan adalah guru terbaik dalam memberikan pelajaran untuk manusia. Maka uang akan bekerja untukmu, dan kamu akan bekerja untuk kepuasan batinmu.

Menjadi seperti apapun kamu nantinya, ikutilah kata hatimu, bukan apa kata orang lain. Karena yang menjalani hidupmu adalah kamu. Tidak perlu menyenangkan orang lain dengan menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Jika orang disekitarmu tulus mencintaimu, maka mereka selalu bahagia jika kamu bahagia menjalani pilihan hidupmu. Good Luck For Your Choice

Dipublikasi di MOTIVASI | Meninggalkan komentar

Ide Bisnis

Hari ini selesai sholat asyar saya tidak langsung balik ke ruangan kerja, kebetulan bos lagi ga ada di ruangan, tapi mampir ke toko koperasi, setiba di koperasi, sebagian orang sedang menonton tayangan stasiun televisi  swasta yang  sedang menayangkan acara inspirasi usaha. Tayangan tersebut diantaranya menginformasikan bahwa ada seorang pengusaha pecel lele dengan omset 1,8 milyar/bulan. Nah dari informasi tersebut ada salah seorang teman dari instansi lain yang kebetulan sedang duduk-duduk di situ (ga tahu dari mana, tp dia, dia cuma bilang dari instansi sebelah) nyeletuk ” To sampean pingin ga seperti Dia” tanya seorang teman kepada teman yang disebelahnya namanya Yanto. Yanto menjawab “ga ah, karena nasib orang kan beda-beda, lagian juga saya bukan bidangnya disitu, saya sudah merasa enak bekerja menjadi PNS”.

Dari obrolan-obrolan tersebut salah seorang yang tadi nanya ke Yanto sebut saja namanya Budi bercerita bahwa dia pernah nyoba memelihara lele dumbo di kampung halamannya, ternyata baru 3 bulan beh… sudah besar-besar dan siap pula untuk disantap. “Memang benar sepertinya bisnis lele cukup menggiurkan, walaupun saya belum pernah mencoba” ujarnya. Setelah itu dia cerita mengenai gurame, mudah memeliharanya. Tiba giliran saya cerita, saya bilang kalau saya punya bisnis ini dan itu yang saat ini dikelola. Atas informasi/cerita saya tersebut si Yanto berkata bahwa ngapain lah Pak.. bisnis ngoyo-ngoyo, paling-paling ya cuma segitu-segitu, ga mungkin maju kalau dijadikan sambilan. Yanto juga bercerita kalau banyak dari teman-teman pegawai yang sudah mikirin usaha karena takut dengan masa-masa pensiun. Yanto memang realistis, untuk apa si susah-susah, wong gaji juga sudah cukup. Begitulah kira-kira ujarnya.

Yanto pun bercerita mengenai sodaranya di kampung Medan sana yang berbisnis cuci cetak foto, bahwa cuci cetak foto kualitasnya macam-macam, ada yang 6 bulan berubah warna karena tinta isi ulang, ada yang kuat 1 tahun, ada pula yang 3 tahun. Untuk yang 3 tahun menggunakan tinta merk terkenal sebut saja FF.

Dari hasil cerita itu ada 2 (dua) hal yang saya simpulkan bahwa:

1. Tidak semua orang termotivasi dengan tayangan atau cerita-cerita sukses seorang bisnisman, ketika dalam jiwanya tidak tertanam kemauan untuk usaha/bisnis dan sudah merasa nyaman hidup sebagai karyawan/pegawai, apalagi kalo di pikiran bahwa dengan bisnis rentan dengan bangkrut. Kalau jadi pegawai negeri kan ga mungkin bangkrut, wek…!!! Walaupun dalam hati saya bergumam, ya lah wong sampean sudah enjoy jadi pegawai, lah aku… di kantor rasanya jadi orang yang tidak bermanfaat, ga memberikan manfaat bagi sekitar, pemberi kerja (negara), masyarakat, ya paling-paling juga keluarga karena tiap bulan dapat gaji.

2. Obrolan yang bermanfaat ternyata ada peluang dan inspirasi disana. Inspirasi bisnis bukan hanya diperoleh dari bacaan-bacaan saja, tapi bisa dari lihat kanan-kiri tapi bisa jadi dari obrolan dengan teman2 yang mungkin mereka juga pernah punya pengalaman sendiri ataupun pengalaman yang dialami tetangga, teman, kolega. So jangan pernah ngobrol yang tidak ada manfaatnya, ngobrolah tentang hidup, usaha, pekerjaan, karier, motivasi dsb yang bisa memberikan manfaat. Jangan hanya nggosipp… apalagi ngrasani tetangga, sahabat, atasan.

Kembali ke topik awal bahwa seorang pedagang pecel lele bisa beromset milyaran, menurut hemat kami syah-syah saja dan wajar-wajar saja apabila diseriusi dengan leverage yang luas. Itulah bisnis, kita jual tusuk gigi pun kalau jangkauan dan wilayahnya luas tidak mustahil akan menjadi milyarder.

Ada komentar..?

Dipublikasi di MOTIVASI | Meninggalkan komentar