Tatakrama dan Unggah-ungguh

Rasa-rasanya jaman sudah berubah, telah banyak generasi muda yang melupakan sejarah, seorang anak buah sudah tidak lagi unggah-ungguh dengan bapak buah, seorang yunior yang mestinya menghormati senior sudah lagi menjadi pamor…, hidup telah berubah, pola dan gaya anak muda telah kehilangan tatanan yang biasanya diajarkan oleh orangtua terutama di Jawa. Yah kehilangan tatanan nilai-nilai antara yunior dan senior, istilah jawa tatakrama atau unggah-ungguh. Apa karena jaman sudah globalisasi sehingga peduli amat dengan gombalisasi…, tak perlu lagi ada aturan-aturan yang mengikat diri, lepaskan lalu teriakan. Itulah mungkin yang menjadi pedoman. Sebenarnya sudah lama saya memendam perasaan ini, koq beda banget lingkungan kerja ku dengan yang dulu ya…, 15 tahun yang lalu ketika saya sebagai yunior, sebagai new comer, di dunia kerja saya sangat rikuh dengan atasan bahkan teman2 sesama staf yang lebih tua. Saya merasa segan dan hormat dengan senior-senior, saya selalu membantu senior. Kalau senior memberikan perintah,  saya nurut aja perintah itu sebagai rasa hormat, kalau senior perlu bantuan, kami bantu…, begitu juga ketika kita minta nasehat mereka dengan suka rela memberikan nasehat, ketika kita perlu sesuatu sebagai yunior yang masih awam dalam pekerjaan maupun kehidupan saya mendapatkan siraman dan wejangan. Istilahnya ada take and give….,ketika itu saya di kota kecil. Saya lalui cukup lama… mungkin faktor lingkungan dan kebiasaan yang membuat suasana hidup, ada olahraga tim seperti sepakbola, bola voli, kerja dengan susunan meja yang berhadap-hadapan, sering berinteraksi, say hello, pengajian, kerjabakhti. Hampir semua kegiatan melibatkan seluruh komponen sehingga terbina dan terbentuk sensitifitas dan solidaritas sesama korp.

Lima belas tahun kemudian ketika saya merasa jadi senior dan kantor di Ibukota ternyata tatakrama, unggah-ungguh dan rasa sungkan terhadap senior, sudah mulai redup. Mungkin saya yang terlalu melangkolis dengan keadaan zaman, atau karena saya menganut paham unggah-ungguh yang terlalu taat, sehingga melihat fenomena dan keadaan zaman sekarang merasa ada sesuatu yang berbeda. Tatanan kehidupan anak-anak muda sekarang berbeda sekali dengan ketika saya masih muda. Yah itulah dunia…so what gitu loh? Sudah lepaskan perasaan, hilangkan rasa dendam, hilangkan rasa menyesal atas perbuatan kita di masa silam, bukan jamannya lagi mello, bukan jamannya lagi berkeluh kesah terhadap hal yang sulit untuk dikontrol. Tetaplah optimiz bila ada tingkah laku dan perbuatan yang dirasa baik maka tetaplah lakukan kalau perlu berikan contoh kepada mereka agar mereka pun mengikuti apa yang engkau inginkan. Yah… pendidikan tatakrama dan unggah-ungguh tidak masuk dalam kurikulum pengajaran di Indonesia sehingga pandangan budaya akan berbeda-beda, sehingga generasi mudanya pun akan berbeda pula dalam pengamalannya walaupun saat ini berada dalam satu kota. Mungkin ketika kecil saya selalu dikekang dengan unggah-ungguh, sopan-santun dan tatakrama yang baik. Sementara teman2 dan adik-adik kita yang tidak sewilayah, tidak sekota, tidak se daerah, tidak se ayah akan berbeda-beda cara menyikapi suatu  unggah-ungguh.  Saya terlahir di kampung yang secara tidak sadar diajarkan untuk minder dan mudah tersinggung. Ketika melihat orang yang berbeda tidak terbiasa, melihat orang yang mentereng gampang tercengang, melihat orang kaya tidak berdaya, melihat orang berdasi kita merasa tidak percaya diri. Sikap dan sifat seperti ini punya peranan penting yang mengakibatkan kaku dalam pergaulan dan sangat taat sama aturan dan norma, tidak suka membohongi diri sendiri apalagi membohongi orang lain. Sebenarnya bukanlah soal bohong membohongi, tetapi seringkali terpikir terhadap polah dan tingkah laku orang lain, sulit melupakannya, padahal harusnya kita berfokus pada apa yang kita lakukan, janganlah memperhatikan apa yang orang lain lakukan, karena hal tersebut sulit dan tidak bisa dikontrol.

Toleransi atas perbedaan karakter manusia memang boleh-boleh aja dan penting, tapi masalahnya adalah tatakrama  yang dianut teman-teman di tempat saya bekerja adalah tatakrama atau unggah-ungguh yang sangat sulit saya toleransi dan bisa diterima akal sehat. Misalnya ada teman yang bawa oleh-oleh atau teman mentraktir makan untuk teman satu ruangan, niatnya memang untuk semua yang di ruangan tersebut dan termasuk mungkin juga saya. Walaupun makanan tersebut untuk umum, termasuk saya, saya merasa risih dan tidak terbiasa untuk langsung menyambar makanan yang dihidangkan sebelum ada yang menawarkan. Tapi herannya sebagian besar teman2 yang nongkrong disitu tidak satu pun yang menawarkan atau berbasa basi untuk menawarkan hidangan tersebut. Budaya saya adalah ketika saya tidak ditawarin untuk menikmati hidangan maka pantang bagi saya untuk memakannya walaupun saya tahu bahwa makanan tersebut dihidangkan untuk saya. Disinilah konflik bathin terjadi, antara makan atau tidak. Kalau tidak makan saya memang merasa bukan dari komunitas tersebut, sementara kalau makan, lah… wong ditawarin aja kagak… saya sedih, sangat sedih atas perlakukan yang demikian. Ini bukan budaya gue banget….Karena model tatakrama yang selama ini saya yakini benar, ternyata di komunitas saya saat ini sama sekali tidak terpakai. Termasuk ketika kita makan, kita sering berbasa-basi mengajak teman/kolega untuk makan walaupun hanya basa-basi, tapi di tempat kerja saat ini sungguh tatakrama seperti ini tidak ada. Mestinya yang muda lah yang lebih menghargai yang tua dan mengalah untuk memberikan tawaran. Waduh…ternyata urusan tatakrama aja membuat saya stress…  Gemana apa ada teman2 yang punya pendapat..?

Tentang deri aja lah

bekerja efektif, semangat dan bermanfaat
Pos ini dipublikasikan di MOTIVASI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s